Adenoma Hipofise: Tumor Jinak Otak yang Mengganggu Sistem Hormon dan Saraf
Gambaran Umum Adenoma Hipofise
Adenoma hipofise merupakan tumor yang berkembang pada kelenjar hipofise. Yaitu kelenjar ini terletak di bagian dasar otak dan punya peran vital dalam mengontrol hormon utama dalam tubuh manusia. Di Indonesia, tumor adenoma hipofise menempati urutan ketiga terbanyak pada kasus tumor otak setelah glioma dan meningioma. Sebagian besar adenoma hipofise bersifat jinak, namun dampaknya dapat memengaruhi banyak fungsi tubuh.
Karena itu, kondisi ini perlu dikenali sejak dini.
Fungsi Kelenjar Hipofise dalam Keseimbangan Tubuh
Kelenjar hipofise sering disebut pusat pengendali hormon. Dari hormon pertumbuhan, reproduksi, dan kelenjar endokrin lainnya.
Ketika tumor muncul, maka fungsi pengaturan hormon terganggu. Hal ini berakibat sistem tubuh tidak bekerja secara optimal. Masalah ini sering berkembang tanpa disadari menjadikan beberapa gejala awal sering diabaikan.
Gangguan Hormon Akibat Adenoma Hipofise
Tumor otak Adenoma hipofise dapat memicu produksi hormon berlebihan. Sehingga mengakibatkan beberapa gejala seperti:
- Pertumbuhan menyebabkan pertumbuhan abnormal. Pada anak, kondisi ini dikenal sebagai gigantisme.
- Sementara itu, pada dewasa disebut akromegali, yaitu gangguan prolaktin sering memengaruhi fungsi reproduksi.
- Pada wanita dapat mengalami siklus menstruasi tidak teratur.
- Pada pria berisiko mengalami penurunan fungsi seksual.
Sebaliknya, beberapa tumor menurunkan produksi hormon dan menyebabkan kelelahan dan gangguan metabolisme.
Dengan demikian, keseimbangan tubuh menjadi terganggu secara menyeluruh.
Tekanan Tumor terhadap Struktur Saraf
Selain efek hormonal, adenoma hipofise yang membesar bisa menimbulkan tekanan pada jaringan sekitar. Salah satunya saraf penglihatan, saraf yang paling dekat dengan area tumor otak hipofise ini menjadi struktur yang paling sering terdampak. Tekanan ini menyebabkan beberapa gejala, diantaranya:
- Gangguan lapangan pandang.
- Penglihatan dapat menyempit secara perlahan dan jika dibiarkan, risiko kebutaan meningkat.
- Nyeri kepala juga sering dialami pasien.
Pemeriksaan Penunjang untuk Diagnosis
Diagnosis adenoma hipofise membutuhkan pemeriksaan komprehensif. Salah satunya adalah dengan melakukan MRI kepala dengan kontras menjadi metode utama yang direkomendasikan. Hasil MRI memberikan gambaran ukuran dan arah pertumbuhan tumor. Selain itu, evaluasi kadar hormon sangat diperlukan. Pemeriksaan meliputi prolaktin, hormon pertumbuhan, dan kortisol. Tes ini dilakukan sebelum dan sesudah operasi. Tujuannya untuk menilai fungsi hormon dan hasil tindakan. Bila terdapat keluhan visual, pemeriksaan mata dilakukan. Tes visus dan lapangan pandang membantu evaluasi saraf optik. Dengan demikian, kondisi pasien dapat dipantau secara akurat.
Penanganan Mikroadenoma dengan Teknik Minimal Invasif
Mikroadenoma umumnya ditangani dengan operasi minimal invasif dengan operasi endoskopi. Teknik ini dikenal sebagai pendekatan transsphenoid. Akses dilakukan melalui rongga hidung atau mulut. Dua metode yang sering dilakukan adalah dengan endonasal dan sublabial. Dengan bantuan endoskopi, intraoperative monitoring, dan neuro navigasi, dapat meningkatkan ketepatan pengangkatan tumor. Keunggulannya adalah tanpa sayatan di kepala. Sehingga pemulihan pasien biasanya berlangsung lebih cepat. Selain itu, risiko komplikasi relatif lebih kecil. Selain itu jam terbang dari dokter sangat berpengaruh dalam operasi operasi tumor adenoma hipofise. Di Brain and Spine Center Mitra Keluarga Surabaya ada Prof. Dr. dr. Asra Al Fauzi, SpBS, Dr. dr. Nur Setiawan Suroto, SpBS dan dr. Zahra Wathoni, SpBS yang biasa menangani tumor otak adenoma hipofise.
Perawatan dan Evaluasi Pasca Operasi
Setelah operasi, pemantauan jangka panjang sangat diperlukan, khususnya pada pasien yang sebelum operasi sudah merasakan gejala gangguan lapang pandang atau bahkan sudah sulit dalam penglihatan. Evaluasi hormon dilakukan untuk memastikan keseimbangan tubuh. Pada beberapa kasus, MRI lanjutan digunakan untuk mendeteksi sisa tumor. Pemantauan rutin membantu mencegah kekambuhan dan jika diperlukan, terapi tambahan dapat diberikan.
